pada suatu malam minggu yang datar!

Yogyakarta, 12 Juni 2021

Tak pernah terbayangkan selama hidup, berada pada kondisi yang se-datar ini. Aku berusaha mengisi hari-hariku dengan banyak hal baru yang tak pernah kulakukan dalam hidupku. Sangat seru tapi masih terasa datar dan hambar. Aku terenyak kemudian mencoba mengoreksi diri. Apa yang mengganjal dalam diri?

Apa yang menjadi “kesukaan” sepertinya harus pelan-pelan namun segera, kulepaskan. Jika tidak, aku akan berjalan se-datar ini sampai larut. Sayang banget rasanya, jika hari-hari yang semakin sedikit ini, kujalani hanya untuk kepuasan diri.

Oke, jika itu membuatku semakin bersemangat. Oke, jika hal itu sering kali seolah menjadi peluang besar dalam keluar dari zona nyaman. Oke, jika itu memiliki peluang besar dalam pengembangan diri. Banyak sekali hal baik, namun belum tentu itu adalah kesukaanNya.

Seringkali, Dia sampaikan sesuatu “anugerah yang wah” dengan hal-hal sederhana. Tidak melulu hal takjub, yang di-frame kebanyakan orang begitu memukau. Dan katanya, tak selalu ketika berhasil, itu adalah kehendak Dia, kesukaanNya.

Rasanya aku ingin menggali anugerah itu. Wait… Tapi apakah mungkin, aku yang aktif mencari dan berusaha. Namun Dia belum membuka jalan. Wah, sulit mensinkronkan kehendak diri dengan kehendakNya, meski terkadang merasa itu adalah hal yang berguna dan membangun.

Hidupku yang menyenangkan belakangan ini, tetap merasa ada titik yang kurang nyaman ataukah disebut tidak damai? Aku tidak tahu definisinya. Belakangan agak sulit menyimpulkan sesuatu, jika hal itu tidak ada suatu parameter yang mendekati tepat. Halaahh, sok sekali ya. Tapi jujur, itu menjadi benang kusut di pikiran, belakangan ini. Sampai-sampai bingung harus mendahulukan hal apa yang mau dikerjakan, dan tak sadar aku memilih tidur mengistirahatkan pikiran yang cukup kalut. Tapi itupun sudah pasti tak menjawab.

Seandainya, ada shortcut ditunjukkanNya, pastilah aku sangat sumringah. Tapi bagaimana mungkin, hal itu Dia berikan. Tak mudah untuk memahamiNya, tak mudah untuk menjalani hidup sesuai isi hatiNya. Semakin tua, semakin merasa jalan ini semakin berat. Hidup bukan tentang diri. Hidup bukan tentang sejengkal perut. Hidup bukan tentang investasi. Semua tetap terasa kosong dan tidak memberikan kepuasan batin.

suatu pengalihan

Adakalanya kebanggaan akan diri itu hadir, dan merasakan bahwa jiwaku tersenyum.

Aku mengambil beberapa keputusan penting dalam hidupku, setelah aku merasakan kepedihan dalam hubungan yang ambruk. Menghempaskan apa yang diriku tahan selama ini, mencoba menggapai apa yang selama ini terlintas di benakku dan berusaha aku endapkan kala itu.

Adakalanya aku bersyukur dengan perjalanan hidup yang terasa berat dan pahit. Ada begitu banyak jerit dan air mata mengalir, namun banyak pula senyum dan teriakan tertawa. Sekali lagi aku mengatakan bahwa berada di fase ini merupakan suatu anugerah besar dalam hidupku dari Pencipta.

Aku menanggapi kehancuran hatiku akan kepergian seseorang yang kuanggap pasti menjadi teman hidupku, dengan hal negatif dan positif. Diawal, kepedihan itu begitu terasa menyiksaku, seringkali aku mencari banyak sekali pelampiasan baik terhadap manusia maupun benda mati. Aku tau bahwa itu tidak akan bisa menyembuhkan luka, namun tetap kulakukan untuk mengalihkan luka yang dalam itu.

Dan ternyata apa yang kuanggap dapat mengalihkan luka, malah menjadi membuka luka-luka baru, ya cukup sakit juga apalagi ketika telah mengambil suatu langkah mengalihkan luka lama itu terhadap manusia lain. Namun bagaimanapun, aku harus menerima konsekuensi dari itu semua. Tidak bisa melulu menyalahkan kondisi, menyalahkan manusia lain, toh akupun ikut ambil andil didalam perjalanan hidup yang telah terjadi.

Setelah lelah menjalani jalan yang salah, aku berusaha mengambil keputusan-keputusan penting yang kunilai sebagai hal positif dalam cara pengalihan luka lama itu. Kuputuskan untuk kuliah lanjut, dimana aku ingin bebas sedikit dari tekanan pekerjaan dan memulai hal-hal baru, dengan mengambil beasiswa dari kantor. Aku menjalani setengah mati pula, mungkin karena inipun adalah suatu bentuk pengalihan-pelampiasan dari luka lama. Tanpa ada persiapan, aku memulai langkah ini. Namun aku menetapkan hati untuk mau belajar pelan-pelan, untuk mau menerima pelan-pelan diriku yang seperti ini, kondisi yang seperti ini, lingkungan baru dan lainnya.

Keputusan lainnya, aku memberanikan diri untuk mencicil rumah yang sangat sederhana. Karena pikirku, tidak ada yang salah dengan itu, toh aku juga bisa tinggal disana, atau suatu waktu jika pindah jauh, aku bisa menjual atau mengontrakkannya.

Dan hampir dua tahun aku menjalani keputusan ini, aku berusaha memberikan hatiku untuk keputusan-keputusan ini, tanpa harus menekan diriku “kau harus seperti mereka”. Aku ingin memberikan ruang di hatiku, di jiwaku… jangan sampai tersiksa lagi, mungkin lebih tepatnya berusaha untuk tidak tersiksa lagi, untuk tidak terluka lagi.

Lalu aku melampiaskan emosiku pada rumah sederhana itu, memberi seni di rumah sederhana itu, mulai mencicil membersihkan dan menata barang-barang yang menumpuk, menghias dinding, membeli beberapa perintilan rumah, dan merenovasi rumah dengan bajet yang tidak banyak. Aku ingin, rumah itu juga hidup, seperti diriku yang juga hidup lagi, bersemangat lagi… jauh lebih semangat dari sebelumnya. Aku juga berharap untuk studi lanjut yang kuperjuangkan saat ini, agar jiwaku juga bisa lebih bersemangat lagi. Cepat atau lambat lulus, yang penting jangan tersiksa lagi, jangan terluka lagi.

Teguran untuk jiwa dari Pencipta

15 Februari 2020

Belajarlah mengikuti Tuhan sebagai suatu keputusan iman yang sungguh-sungguh. Kau tidak bisa main-main dengan keputusan ini.

Akan ada banyak jalan terjal dan sangat sulit, bisakah kau sungguh-sungguh mengandalkan hanya Tuhan saja?

Ketika kita sudah melangkah, barulah Tuhan perlahan-lahan memperjelas jalan yang sedang kita ambil.

Kita tidak mungkin disebut beriman kepada Tuhan kalau segala jalan didepan telah dibukakan Tuhan terlebih dahulu. Jalan berliku dan sangat sulit itulah yang harus dilalui dengan keberserahan total kepada Allah.

Itulah sebabnya langkah-langkah yang kita ambil adalah suatu keputusan iman dan ketetapan hati untuk setia mengikuti Tuhan.

Apapun yang akan terjadi, langkah demi langkah harus diambil berdasarkan kerinduan untuk menaati Tuhan dengan setia.

Tentang Kehendak!

Manusia dicipta Allah, diberikan kebebasan. Dia tak jadikan manusia seperti robot, disetel oleh Pencipta. Namun kebebasan yang diberikanNya, seringkali disalah arti oleh manusia yang dari kandungan sudah berdosa. Yang dicipta hidup sesuka hati, apapun yang diingini, apapun yang mau dilakukan, apapun yang disukai. Manusia merasa hidupnya adalah miliknya. Hidup dalam kehendak diri.

Tak jarang pula terjadi, manusia yang hidup dalam kehendak diri itu, juga memaksa kehendak-kehendak dirinya terhadap hidup manusia lain. Mungkin saja, manusia merasakan hidup orang lain itupun adalah miliknya. Manusia yang dicipta seolah menjadi Pencipta. Dia ingin bebas, namun tak membebaskan manusia lain.

Bagaimana dengan Pencipta? Bukankah Dialah yang seharusnya berhak-berkehendak terhadap manusia yang Dia cipta? Sulit dimengerti. Dia berdaulat, Dia berkehendak. Hidup sebagai musafir di tengah dunia yang fana. Memahami kehendak manusia yang rumit, namun lebih rumit memahami kehendak Pencipta. Kehendak manusia tiada guna, kehendak Allah jauh bermakna.

Terimakasih :)

Pematangsiantar, 5 Februari 2020

Perjuangan berada pada titik ini merupakan suatu anugerah yang patut disyukuri dan dibanggakan. Pernah seperti berada di gurun pasir, merasa haus dan lapar, cemas dan takut, seolah tiada harapan. Namun sudah sekian tahun berlalu, jiwa dan hati ternyata merupakan bagian terkuat dari diri. Terimakasih sudah berusaha, berjuang dan bertahan.